Coretannya Fetro

Karya Besar Tidak Ditentukan Oleh Kekuatan Melainkan Ketekunan

Pendidikan Etika, Pencegahan Korupsi Sejak Dini, dan Persamaan Hak

with 4 comments

Tulisan ini saya copy paste kan dari milis ini, ditulis oleh Ibu Daisy Irawan, mudah-mudahan beliaunya berkenan jika suatu saat beliau membaca tulisannya ini saya sebarluaskan kembali.

::========::

Dear all,

Sekedar berbagi pengalaman. Beberapa hari yang lalu saya berkesempatan menjadi penjaga stand universitas di pameran pendidikan ilmiah nasional. Pamerannya menurut saya tidak terlalu istimewa untuk ukuran sebuah negara maju.

pendidkan-anak.jpgKecuali bahwa ada banyak sekali anak kecil yang datang bersama orang tuanya… dari jam 10 pagi sampai jam 6 sore, hampir 2000 tabung reaksi habis; jadi nyaris sejumlah itulah anak2 yang datang mengunjungi stand kami dalam satu hari. Anak2 itu begitu riuh mengerubungi stand kami yang menampilkan strawberry dan peralatan2 ‘lucu’ di meja. Mereka semua tertarik untuk melakukan eksperimen yang kami ajarkan.

Peduli pada orang lain

Seperti layaknya anak2 yang lain; anak2 itu ingin melihat sedekat-dekatnya. Ajaibnya mereka tidak saling berdesakan, maupun saling sikut. Anak2 sekecil itu berdiri dengan rapi;ngantri. Ada beberapa anak yang berusaha menjulurkan badan agar dapat melihat lebih jelas. Namun oleh orang tuanya mereka segera disuruh mundur agar tidak menghalangi pandangan anak yang lain. Sebagian besar dari anak-anak itu juga dengan santun mengatakan: “Maaf nona, bolehkah saya mencobanya? Boleh minta tolong untuk mengambilkan satu pipet lagi untuk adik saya? Maukah nona menjelaskan mengapa cairan ini menjadi berbusa?” dan “Terima kasih banyak atas pelajarannya. Di mana saya harus membuang tabung & pipet bekas ini?” setelah mereka selesai bereksperimen.

Peduli lingkungan

Setelah usai mengajak mereka bereksperimen, seperti lazimnya di Indonesia, saya memberikan brosur agar mereka lebih memahami apa yang baru saja dilakukan. Mereka atau orang tuanya membaca brosur itu dengan seksama, kemudian menaruhnya baik-baik di tas. Namun cukup banyak juga yang membaca sampai habis lalu mengembalikannya seraya berkata, “Terima kasih!” agar brosurnya bisa diberikan pada pengunjung yang lain.

Mengamati hal itu, sungguh malu dengan perilaku saya yang hobi mengumpulkan brosur2 di pameran membaca sekilas, kemudian menumpuknya begitu saja, sampai tumpukannya cukup tinggi untuk dijual ke tukang loak. (Makanya.. saat awal saya sedikit heran dan khawatir, kenapa sedikit sekali brosur yang disediakan untuk stand, padahal pengunjungnya banyak sekali… saya sempat berpikir: pelit amat sih universitas?)

Tidak serakah

Seperti halnya anak-anak di belahan dunia manapun, mereka juga memiliki rasa ingin tahu yang sangat besar. Beberapa tidak puas hanya mencoba sekali. Mereka ingin mengamati sekali lagi bagaimana gelembung2 bisa keluar dari sari buah strawberry. Mereka pun minta tabung reaksi lagi (murahnya minta ampun di sini); dan saya beri. Namun, sungguh menakjubkan. Orang tuanya berkata, “Jangan sayang.. masih banyak anak2 yang akan datang, nanti mereka tidak kebagian.”

Perilaku orang tua ini sungguh luar biasa dan akan sangat bermakna bagi pencegahan korupsi di kemudian hari.

Saya jadi teringat.. di halaman depan rumah kami di Indonesia, ada pohon jambu yang berbuah sangat lebat. Anak-anak suka sekali memanjati pagar rumah saya untuk mencuri jambu. Dan bukannya melarang, tak jarang orang tuanya justru membantu mereka mengambilkan jambu di pucuk2 yang tinggi dengan galah. Termasuk di antaranya Pak RT di kompleks perumahan kami. Pernah suatu hari, anak beliau terjatuh saat berusaha memanjat pagar. Bu RT pun murka dan menyalahkan pagar di rumah kami. Padahal, kami sama sekali bukan orang yang kikir; kalau minta baik-baik pasti kami bukakan pintu pagar supaya anak yang bersangkutan bisa memanjat pohon tanpa perlu memanjat pagar yang rapuh terlebih dahulu. Namun beliau tidak bisa mengerti, malah menyalahkan saya yang tidak pernah di rumah karena selalu sibuk di kampus. Nah! …. (apa susahnya menunggu Hari Minggu coba?)

Kesempatan dan harapan

Teman-teman sekalian, saya tidak berniat menghakimi. Namun sungguh terasa ada perbedaan budaya yang mencolok di sini. Selain pendidikan etika yang sangat baik, ada kekaguman dan keharuan yang luar biasa di dalam hati ketika menyaksikan betapa banyak orang tua yang bersusah payah membawa anak-anaknya yang memiliki kemampuan berbeda (istilah untuk penyandang cacat di sini) ke pameran.

Banyak di antara mereka yang tidak memiliki mobil pribadi. Mereka datang dengan bis, bersusah payah menaikkan kereta dorong berisi anak usia SD yang tak mampu berjalan sendiri. Ada anak yang begitu lemas, mengangkat kepala pun tak sanggup. Liur terus menetes dari sudut mulutnya. Sekujur tubuhnya sering kali bergetar. Namun matanya berbinar penuh cahaya ketika menatap sang bunda yang menunjukkan bagaimana sari buah strawberry bisa mengeluarkan gelembung-gelembung.

Berapa lama lagi Tuhan akan memanggil anak itu ke surga? Akankah ia sempat menempuh pendidikan tinggi? Akankah ia memenangkan hadiah nobel seperti salah satu pemenang nobel fisika beberapa tahun yang lalu (yang juga tak mampu menggerakkan tubuhnya)? Hanya Tuhan yang tahu. Yang jelas, anak-anak yang “memiliki kemampuan berbeda” di negara maju berbahagia sekali karena mereka memiliki kesempatan yang sama dengan anak-anak normal.

Seandainya kita bisa meneladani kebaikan-kebaikan seperti ini… pasti Indonesia sungguh-sungguh MERDEKA!!

::========::

Saya hanya bisa membayangkan kapan Indonesia bisa seperti itu.

Ah… kita yang harus memulai merintis usaha tersebut dari sekarang !!

Sumber gambar : www.sigma.co.id/gentakalbu/images/anak2.jpg

Written by fetro

Agustus 14, 2007 pada 9:54 am

Ditulis dalam Cerita

4 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. “Saya hanya bisa membayangkan kapan Indonesia bisa seperti itu”
    Kalau sudah MERDEKA Mas….

    ::====::

    Kapan ya bisa benar-benar “merdeka”??

    Liex's

    Agustus 16, 2007 at 12:05 am

  2. Anak belum jadi tumpuan harapan…dalam banyak program pemerintah kalo udah nyangkut anak mesti di skip…. semoga masa depan anak-anak Indonesia lebihbaik……kira kira 50 tahun lagi Indonesia masih ada ?? (pertanyaan nakal…hayo jangan nakal) *ngabur*

    ::=====::
    50 tahun lagi…?? kalo kondisinya nggak tambah makmur bisa jadi indonesia udah terpecah-pecah.. (jawabnya nakal juga…).

    dokterearekcilik

    Agustus 18, 2007 at 5:32 pm

  3. indonesia akan merdeka ketika orang2 yg diatas memberi contoh yang baik dan aparat negar dapat bekerja dengan baik tanpa bisa di suap

    wanda

    Juli 27, 2009 at 9:52 am

  4. indonesia akan merdeka ketika orang2 yg diatas memberi contoh yang baik dan aparat negar dapat bekerja dengan baik tanpa bisa di suap.

    ayu

    Juli 27, 2009 at 9:53 am


Tinggalkan Balasan