Pendidik yang tak mendidik
hanya mengecek kebenaran info yang aku terima dari orang tua saat berkunjung kemarin… hasilnya, pendidikan di kampungku memalukan. Padahal oknum-oknum kepala sekolah yang dimaksud dulunya adalah guru-guru yang sangat aku hormati. ..
http://www.tempointeraktif.com/hg/pendidikan/2009/04/21/brk,20090421-171659,id.html
Bapak dan Ibu guru, persentase kelulusan yang tinggi bukan semata2 tujuan pendidikan, proses dari pendidikan itulah yang akan menghasilkan murid2 cerdas yang berani menantang kerasnya hidup..
Lelaki Sederhana yang menghabiskan separoh waktu hidup di Manna, Bengkulu selatan sebelum memperbanyak kisah hidup di Jogjakarta, Semarang dan Bekasi.
Sangat mencintai keluarga dan berharap juga dicintai keluarga.
Mudah-mudahan Blog Sederhana bisa memberikan manfaat.
Amiin
negri yang haibats !!! dazars..
sayur
Mei 26, 2009 at 4:55 pm
Tingginya angka kelulusan bukan berarti lalu pertanda sukses, tetapi nyaris identik dengan tingginya angka penggelembungan pemilu. Angka2 yang tinggi itu cermin betapa rusaknya praktek yang dilakukan penyelenggara negara di bidang pendidikan kita; bayangkan kalau ini dilakukan melalui upaya pembocoran soal, rayonisasi tingkat kesulitan soal dan sebaginya yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Padahal kita perlu mencetak generasi yang bersih yang baik, yang kelak mampu memperbaiki masa depan negara ini…
Salam
limpo50
Mei 27, 2009 at 8:46 am
setuju …
entah kenapa kulitas guru skr makin.. tidak berkualitas.
tanggungjawab untuk ‘memintarkan’ masyarakat terkalahkan oleh ‘memintari’ masyarakat
mungkin krn..guru2 skr umumnya tidak berasal dari ‘kualitas manusia terbaik’ dibidangnya
mungkin jg krn jd guru butuh ‘biaya gede’..buat nyogok sana-sini..
akhirnya mikirnya cuma gimana balik modal (ala pedagang deh)..
akhirnya pola ngajarnya asal-asalan..biar siswanya pada ikutan les privat kedia..
hhhh..grrh!!!
langitbirucerah
Mei 27, 2009 at 10:49 am
Miris ya Fet baca beritanya.
Aku kapan hari itu browsing temen2 alumni SMA 1. tau-tau dapat link berita itu. bener2 sedih. Gak percaya rasanya itu terjadi sama SMA kita.
Menurut aku pribadi sih memang sistem ‘penyama rataan’ standard kelulusan dan soal ujian untuk seluruh sekolah di Indonesia kurang tepat, mengingat kualitas pendidikan (fasilitas fisik dan tenaga pengajar) yang tidak sama merata. Sistem-nya memang perlu ditinjau ulang, tetapi tidak berarti guru2, pendidik, dan pihak2 terkait bisa jadi ‘bisnis’ jualan soal/ kunci jawaban dengan alasan ‘membantu’ siswa biar lulus semua.
Kapan mau baik mutu bangsa kita ini kalo generasi mudanya ‘dididik dan difasilitasi’ untuk “beli gelar, beli ijazah”…
Wassalam,
Ade
ade
Juni 4, 2009 at 3:44 pm
onga, mpai bacau berita ini. wuihh, sekul kitau dulu, nga. sedih bacau au.
fety
Juni 13, 2009 at 6:48 pm